Powered By Blogger

Selasa, 30 Maret 2010

MANFAAT PENULISAN ILMIAH

Manfaat Penulisan Ilmiah.
1. Melatih daya berpikir kita untuk tertib dan teratur karena menulis ilmiah harus mengikuti tata cara penulisan yang sudah ditentukan prosedur tertentu, metode dan teknik, aturan atau kaidah standar, disajikan teratur, runtun dan tertib.
2. Menulis ilmiah memerlukan literatur, buku-buku ilmiah, kamus dan Ensiklopedia yang disusun tertib.
3. Oleh sebab pada hakikatnya sebuah karangan ilmiah ialah laporan tentang kebenaran yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan bukan karangan belakang.
4. Karena dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab pembahasan yang berfungsi menganalisis, memecahkan dan menjawab setiap permasalahan sampai tuntas hingga ditemukannya jawaban berupa karya ilmiah.
5. Karena dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab landasan teori atau kerangka teoritis yang berfungsi memaparkan teori-teori para ahli serta mengomentari atau mengkritiknya untuk mendukung dan memperkuat argumen para penulis.
6. Bahasa komunikatif ilmiah memiliki syarat :
a. Harus jelas.
b. Penempatan gatra.
c. Diksi atau pilihan kata harus tepat.
d. Bahasa yang digunakan harus benar-benar Fakta.

POLA HUBUNGAN S+P

4 pola hubungan S+P:
1. Semua subjek adalah bukan semua Predikat
Contoh kalimat:
a. Semua pria adalah bukan semua anak anak
b. Semua guru adalah bukan semua laki-laki
c. Semua mobil adalah bukan semua taksi

2. A. Semua subjek adalah predikat
Contoh kalimat:
a. Semua ayah adalah kepala rumah tangga
b. Semua imam solat adalah pria
c. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan

B. Sebagian subjek adalah predikat
a. Sebagian wanita adalah memakai kerudung
b. Sebagian dosen Universitas Gunadarma adalah laki-laki
c. Sebagian dokter kandungan adalah laki-laki

3. Tidak adapun subjek adalah predikat
a. Tidak ada satupun wanita adalah berkumis
b. Tidak satupun manusia adalah hewan
c. Tidak ada satupun manusia adalah bisa hidup sendiri

4. A. Sebagian subjek adalah sebagian predikat
a. Sebagian manusia adalah sebagian wanita
b. Sebagian hewan adalah sebagian hidup di air
c. Sebagian wanita adalah sebagian berkerudung

Rabu, 03 Maret 2010

Pengaruh Faktor Eksternal dalam keputusan membeli

Di era globalisasi dan pasar bebas, berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia. Persaingan antar merek setiap produk akan semakin tajam dalam merebut konsumen. Bagi konsumen, pasar menyediakan berbagai pilihan produk dan merek yang banyak. Konsumen bebas memilih produk dan merek yang akan dibelinya. Keputusan membeli ada pada diri konsumen. Konsumen akan menggunakan berbagai kriteria dalam membeli produk dan merek tertentu. Diantaranya ialah ia akan membeli produk yang sesuai kebutuhannya, seleranya dan daya belinya.
Diakui pula oleh beberapa pakar pemasaran, bahwa trend pemasaran internasional abad 21 akan bergeser dari pendekatan transaksional ke pendekatan relasional dengan berfokus pada pemenuhan kebutuhan, kepuasan, dan kesenangan pelanggan. Artinya setelah transaksi selesai, konsumen tidak selalu dibiarkan begitu saja, yang nantinya akan mudah diambil oleh perusahaan lain. Akan tetapi bagaimana perusahaan dapat menciptakan kesetiaan bagi pelanggan (customer loyalty) dengan memahami apa sebenarnya yang diinginkan oleh pelanggan itu sendiri. Cara ini di dalam konsep pemasaran yang baru disebut sebagai relationship marketing.
Untuk dapat mengenal, menciptakan dan mempertahankan pelanggan, maka studi tentang perilaku konsumen sebagai perwujudan dari aktivitas jiwa manusia sangatlah penting. Perilaku konsumen (customer behaviour) memberikan wawasan dan pengetahuan tentang apa yang menjadi kebutuhan dasar konsumen, mengapa mereka membeli, dimana konsumen itu suka berbelanja, siapa yang berperan dalam pembelian, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsumen untuk membeli suatu barang.
Ada banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dan proses pengambilan keputusannya dalam pembelian suatu barang. Seperti yang dikemukakan oleh Suharto (2001:3), bahwa proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: faktor sosiokultur (kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi) dan faktor psikologis (sikap, persepsi, motivasi dan gaya hidup).
Sedangkan proses pengambilan keputusan pembelian memiliki lima tahap sebagaimana yang dikemukakan oleh Kotler (2000:204) yaitu: tahap pengenalan masalah atau kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap evaluasi altematif, tahap keputusan pembelian, dan tahap perilaku pasca pembelian.
Saat ini, sepeda motor merupakan barang kebutuhan individu dimana keberadaannya mencerminkan gaya hidup dan perilaku pemakainya, maka dalam keputusan pembeliannya, faktor psikologis sangat berpengaruh. Kotler (2004 : 196) mengatakan pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu (motivasi, persepsi, pembelajaran serta keyakinan dan sikap).
Seperti yang terjadi di Dealer Sido Makmur Motor Blitar, perusahaan selalu melakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan penjualannya. Upaya-upaya tersebut antara lain melalui media iklan, peningkatan kualitas pelayanan, pemberian hadiah pada pelanggan serta mengetahui selera konsumen. Perusahaan menyadari, bahwa faktor psikologis saat ini memegang peranan penting dalam keputusan pembelian, meskipun faktor – faktor lain seperti budaya, sosial, pribadi juga berpengaruh pada keputusan pembelian.
Peneliti juga tertarik untuk membuktikan, sejauh mana faktor psikologis yang disampaikan para pakar berpengaruh terhadap keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen di Dealer Sido Makmur Motor Blitar.
Hal inilah yang mendorong peneliti, untuk mengambil judul penelitian " “Pengaruh Faktor Psikologis terhadap Perilaku Konsumen dalam Keputusan Pembelian Sepeda Motor Honda pada Dealer Sepeda Motor Sido Makmur Blitar."

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaruh faktor motivasi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar?
2. Bagaimanakah pengaruh faktor Persepsi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar?
3. Bagaimanakah pengaruh faktor Pembelajaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar?
4. Bagaimanakah pengaruh faktor Keyakinan dan Sikap terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar?
5. Bagaimanakah pengaruh faktor Motivasi, Persepsi, Pembelajaran serta Keyakinan dan Sikap secara simultan terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar?
6. Faktor manakah yang dominan mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar

C. Tujuan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Pengaruh faktor motivasi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
2. Pengaruh faktor Persepsi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
3. Pengaruh faktor Pembelajaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
4. Pengaruh faktor Keyakinan dan Sikap terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
5. Pengaruh faktor Motivasi, Persepsi, Pembelajaran serta Keyakinan dan Sikap secara simultan terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
6. Faktor manakah yang dominan mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar

D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data terkumpul (Arikunto, 2002:64).
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah hipotesis alternatif (Ha) sebagai berikut:
1. Ada pengaruh faktor motivasi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
2. Ada pengaruh faktor persepsi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
3. Ada pengaruh faktor pembelajaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
4. Ada pengaruh faktor keyakinan dan sikap terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
5. Ada pengaruh faktor motivasi, persepsi, pembelajaran serta keyakinan dan sikap secara simultan terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
Sedangkan hipotesis Nol (Ho) sebagai berikut:
1. Tidak ada pengaruh faktor motivasi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
2. Tidak ada pengaruh faktor persepsi terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
3. Tidak ada pengaruh faktor pembelajaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar.
4. Tidak ada pengaruh faktor keyakinan dan sikap terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar.
5. Tidak ada pengaruh faktor motivasi, persepsi, pembelajaran serta keyakinan dan sikap secara simultan terhadap perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda pada Dealer Sido Makmur Motor Blitar
E. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian ini, maka manfaat yang diharapkan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1 Bagi Universitas Negeri Malang
Untuk memperkaya bahan bacaan di perpustakaan dalam menambah ilmu pengetahuan.
2 Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang perilaku konsumen dalam membeli produk perusahaan, sehingga perusahaan bisa bijak dalam mengambil keputusan.
3. Bagi penulis
Menambah pengalaman dan wawasan penulis dalam memecahkan masalah, serta melatih diri lebih sensitif terhadap permasalahan dalam bidang pemasaran.

F. Asumsi Penelitian
Menurut Arikunto (2002:61) asumsi adalah suatu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang harus dirumuskan secara jelas. Dalam hal ini asumsi yang diajukan dalam penelitian adalah:
1. Perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor merek Honda dipengaruhi faktor psikologis.
2. Ada salah satu faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi konsumen.
3. Responden memahami pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan jujur.

G. Ruang lingkup dan Keterbatasan Penelitian

1. Ruang Lingkup Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah faktor psikologis (Motivasi, Persepsi, Pembelajaran, Keyakinan dan Sikap) yang mempengaruhi perilaku konsumen sebagai variabel bebas dan perilaku konsumen sebagai variabel terikat. Populasi dari penelitian ini adalah pembeli sepeda motor di Dealer Sido Makmur Blitar.
Berdasarkan ruang lingkup tersebut, dipaparkan jabaran variabel sebagai berikut:


Variabel Sub Variabel Indikator Instrumen Sumber Data
Variabel bebas (faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumen) Faktor Motivasi
(X1)

1. Pemenuhan Kebutuhan Fisik
2. Pemenuhan Kebutuhan Keamanan
3 Pemenuhan Kebutuhan Sosial
4 Pemenuhan Kebutuhan penghargaan
5 Pemenuhan Kebutuhan aktualisasi diri Kuisioner Konsumen Dealer Sido Makmur Motor Blitar

Faktor Persepsi
(X2) 1. Perhatian selektif
2. Distorsi Selektif
3. Ingatan/Retensi selektif Kuisioner Konsumen Dealer Sido Makmur Motor Blitar

Faktor Pembelajaran
(X3) 1. Dorongan
2. Rangsangan
3. Petunjuk Bertindak
4. Tanggapan
5. Penguatan Kuisioner Konsumen Dealer Sido Makmur Motor Blitar

Faktor Keyakinan & Sikap
(X4) 1. Pengetahuan tentang produk
2. Pendapat tentang produk
3. Kepercayaan Kuisioner Konsumen Dealer Sido Makmur Motor Blitar

Variabel Terikat (Y)

(perilaku pembelian konsumen)

Proses pengambilan keputusan konsumen

1. Pengenalan kebutuhan
2. Pencarian informasi
3. Evaluasi alternatif
4. Keputusan pembelian
5. Keputusan pasca pembelian Kuisioner Konsumen Dealer Sido Makmur Motor Blitar
Sumber Kotler (2000 : 198)

2. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian adalah hal-hal yang membatasi masalah yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu:

1. Variabel yang diteliti terbatas pada variabel faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumen dan proses pengambilan keputusan pembelian.
2. Penelitian ini hanya berlaku bagi pembeli sepeda motor merek Honda di Dealer Sido Makmur Blitar.

H. Definisi Operasional

Dalam PPKI (Pedoman Penulisan Karya Ilmiah) dijelaskan bahwa definisi operasional adalah definisi yang berdasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati. Dengan tujuan tersebut di atas, maka definisi operasional dalam penelitian ini disusun sebagai berikut:

1. Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan barang dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan itu.

2. Psikologis adalah Ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, proses maupun latar belakangnya. Faktor psikologis terdiri dari Motivasi,Persepsi, Pembelajaran, Keyakinan dan Sikap
Pengaruh adalah hubungan sebab akibat antara dua variabel, yaitu faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumen (variabel bebas) dan perilaku pembelian konsumen (variabel terikat). Dimana variabel bebas yang akan mempengaruhi variabel terikat.

Anak Yang Kegemukan, Beresiko Terkena Sakit Jantung

Anak-anak yang menderita kegemukan lebih mungkin untuk terserang sakit jantung pada masa depan.

Hasil studi menyebutkan, para peneliti di University of North Carolina School of Medicine, AS mendapati tanda peringatan bagi sakit jantung pada masa depan pada anak yang berusia tiga tahun.

"Anak yang kegemukan memiliki tingkat protein C-raktif yang lebih tinggi - tanda mengenai radang dan risiko sakit jantung," kata studi itu yang diterbitkan di edisi Internet Journal Pediatrics.

Anak yang kegemukan pada usia enam dan sembilan tahun juga memiliki tingkat lebih tinggi dua tanda lain radang.

"Kami menyaksikan hubungan antara status berat badan dan penanda radang yang lebih besar, jauh lebih dini daripada perkiraan kami sebelumnya," kata penulis studi itu Asheley Cockrell Skinner, pembantu profesor bidang Ilmu Kesehatan Anak di universitas itu.

"Kebanyakan orang dewasa memahami bahwa kelebihan berat atau kegemukan tidak baik buat mereka. Tetapi tak sebanyak itu orang yang menyadari bahwa mungkin tidak sehat buat anak kecil memiliki tubuh terlalu gemuk," katanya Skinner.

Para peneliti tersebut sampai pada kesimpulan mereka setelah menganalisis data yang dikumpulkan antara 1999 dan 2006 pada satu jajak pendapat nasional. Lebih dari 16.000 anak yang berusia satu sampai 17 tahun ikut dalam studi itu.

Hampir 15% anak dikategorikan sebagai kelebihan berat badan, 11% kegemukan dan 3,5% dipandang sangat gemuk.

"Masih banyak pekerjaan perlu dilakukan sebelum kami menyimpulkan dampak penuh dari semua temuan ini," kata penulis lain studi tersebut, Dr Eliana Perrin.

"Tetapi studi ini memberi tahu kami bahwa anak yang kegemukan dalam usia sangat muda sudah menghadapi lebih banyak radang dibandingkan dengan anak yang tidak kegemukan, dan itu sangat memprihatinkan. Itu mungkin membantu memotivasi kami sebagai dokter dan orang-tua untuk memperhatikan masalah kegemukan pada anak yang berusia muda ini dengan lebih sungguh-sungguh," kata Perrin.

KASUS BANK PALING FENOMENAL :))

Kasus Bank Century terus menggelinding sebagai isu panas minggu ini. Pasalnya bank milik Robert Tantular itu telah memicu konflik terbuka antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Terkesan aneh, mengingat seorang menteri bertindak 'terlalu' berani terhadap atasan. Ada apa sebenarnya?

Kasus dana talangan yang diberikan kepada Bank Century mencapai Rp 6,7 triliun (bahkan bisa lebih banyak) itu ternyata tidak mendapat persetujuan dari Wapres K sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap perjalanan dinamika perekonomian bangsa ini. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur.

Kini persoalan Bank Century hampir pasti mengkuti pola dan kesalahan yang dilakukan pemerintah pada BLBI pertama tahun 1998, ketika pemerintah memberikan bail-out kepada bank-bank yang dananya dirampok oleh pemiliknya sendiri dan menjadikan pemerintah sebagai penjamin, tameng, dan atau bodyguard untuk keamanan semuanya.

Menarik untuk mencermati tentang dana talangan atau bail-out Bank Century yang membengkak menjadi Rp 6,7 triliun. Secara institusi, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengaku telah mengkonsultasikan tambahan suntikan dana tersebut kepada Bank Indonesia (sebagai regulator). Dalam hal ini, penambahan dana dilakukan karena Bank Century tidak memiliki rasio kecukupan modal (CAR).

Sebagai catatan, CAR Bank Century per 31 Oktober 2008 telah minus dari 3,25% anjlok menjadi -35,92%. Dengan demikian, LPS

menyuntikkan dana segar atau penyertaan modal menjadi 10%. Dana yang dibutuhkan untuk hal ini mencapai Rp 2,77 triliun. Dalam perkembangannya, LPS per 31 Desember 2008 juga kembali menutup kebutuhan likuiditas Bank Century dengan menyuntik dana segar sebesar Rp 2,201 triliun.

Lebih lanjut, pada bulan Februari 2009, cash money terus disuntik sebesar Rp 1,55 triliun dan Rp 630

miliar. Dengan demikian total keseluruhan dana yang disuntikkan LPS ke Bank Centuy adalah Rp 6,7 triliun, sebuah jumlah yang fantastis dan rekor bagi pemerintah.

Persoalan muncul ketika ada yang mempertanyakan bagaimanakah nasib duit rakyat sebesar Rp 6,7 triliun? Mengapa dana sebesar itu dengan mudah diberikan oleh pemerintah? Atas pertimbangan apakah BI merekomendasi untuk melakukan bail-out (dana talangan) kepada institusi bodong seperti Bank Century?

Tidakkah BI belajar banyak dari kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLIBI) yang telah merugikan negara mencapai Rp 600 triliun yang hingga kini bahkan sampai 20 tahun mendatang rakyat harus membayarnya dengan bunga dan pokok sebesar Rp 60 triliun melalui APBN? Di manakah tanggung jawab BI sebagai badan pengawas perbankan nasional?

Kini, setelah masalah Bank Century menjadi bahan diskusi publik, pemerintah harus tetap terbuka. Menkeu dan Gubernur BI harus bertanggung jawab atas 'tragedi' ekonomi jilid dua yang menimpa bangsa ini. Pengelolaan ekonomi dan aset republik sudah saatnya

dilakukan dengan jujur dan berkeadilan. Kita telah bosan disuguhi dengan teatrikal dan drama palsu pengelolaan ekonomi dan aset bangsa. Negara tidak boleh mempermainkan rasa keadilan kepada rakyatnya.

Andai dana Rp 6,7 triliun disuntik untuk program public services seperti kesehatan dan pendidikan, sungguh begitu banyak

rakyat yang bersyukur, karena tertolong kebaikan hati pemerintah. Kini, langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam bidang ekonomi adalah segera bertobat atas perbuatannya dan meminta maaf secara terbuka kepada pewaris sah kedaulatan, rakyat Indonesia. Lebih dari itu, sikap jantan JK atas tragedi Bank Century patut diacungi jempol.

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP GAYA HIDUP MODERN.

Masyarakat modern ditandai dengan aktivitas kerja yang tinggi serta adanya kesempatan yang sama untuk dapat bekerja bagi setiap orang yang mempunyai kompetensi tanpa diskriminasi. Aktivitas tersebut berdampak pada semakin banyak wanita pekerja atau karir yang menghabiskan waktu di luar rumah, sehingga kesulitan dalam menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga termasuk menyediakan makanan bagi keluarga. Kelompok keluarga dengan ekonomi cukup, cenderung memilih makan di luar rumah dengan memilih tempat, restoran atau café, selain cita rasanya lebih enak juga banyak sekali aneka menu yang di tawarkan, serta suasana yang menyenangkan. Surabaya sebagai kota metropolitan memiliki fasilitas untuk kondisi seperti yang di sebutkan di atas.
Bisnis makanan di Surabaya masih memberikan peluang bagi para pengusaha restoran. The Steak salah satu badan usaha restoran membuka usahanya pada 11 November 2002 berlokasi di Surabaya. Awalnya restoran ini di buka khusus untuk pelayanan undangan khusus ( soft opening ), akan tetapi dalam kurun waktu yang tidak lama kemudian, di buka untuk umum. Restoran ini mencoba masuk pada persaingan yang sudah ketat dengan merebut pangsa pasar yang sama dengan restoran lainnya di Surabaya. Berdasarkan hasil survey awal, ada fenomena bahwa konsumen restoran ini makin hari makin bertambah, dan terlihat ada kesetiaan dari pelanggannya dilihat dari frekuensi kunjungan mereka. Hal ini membuat peneliti ingin menganalisis tingkat kesetiaan pelanggan restoran ini berdasarkan tingkat kepuasan mereka. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi masukkan manajemen mengevaluasi keberhasilan dalam mengelola restoran menghadapi pesaing yang makin ketat dan agresif.
Sehingga dapat di tarik kesimpulan, bahwa gaya hidup dan lingkungan dapat mempengaruhi seseorang bisa menjadi konsumerisme, karena mereka tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk menyiapkan, atau mendapatkan sesuatu yang di inginkan, atau di harapkan.

Selasa, 02 Maret 2010

ANALISA RESIKO DAN LINGKUNGAN USAHA

1 RESIKO USAHA
Dalam menjalankan kegiatan pembangunan dan pengembangan usaha tentunya akan menghadapi beberapa resiko yang dapat mempengaruhi hasil usahanya yang apabila tidak diantisipasi dan dipersiapkan penanganannya. Diantara resiko usaha tersebut dapat bersumber dari faktor internal maupun eksternal perusahaan.

* Resiko Internal Usaha

Dalam menjalankan usaha setiap perusahaan memerlukan perangkat untuk mendukung jalannya usaha tersebut diantaranya adalah sumberdaya berupa modal dan personil yang handal sesuai dengan kebutuhan. Selain itu juga diperlukan peraturan baku (SOP) yang memuat kewajiban dan hak-hak karyawan, sehingga dapat mengantisipasi peluang terjadinya kesalah pahaman antara pihak manajemen perusahaan dengan para karyawannya.

* Resiko Eksternal Usaha

a) Resiko Buyer/Supplier
Dalam melakukan pemasaran hasil produksi perusahaan harus lebih berkonsentrasi kepada kwalitas layanan dan selalu melakukan kegiatan peningkatan kualitas dan kontinuitas kepada buyer potensial yang menjadi pelanggan perusahaan.

b) Resiko Perekonomian
Faktor resiko yang berasal dari luar kegiatan usaha antara lain disebabkan oleh kondisi ekonomi, sosial dan politik baik lokal, nasional maupun internasional dapat berakibat kurang baik terhadap dunia usaha pada umumnya. Memburuknya kondisi perekonomian akan dapat mengakibatkan daya beli masyarakat menurun, disamping kondisi ekonomi makro juga cukup berpengaruh terhadap volume kegiatan usaha

c) Resiko Perkembangan Teknologi
Kemajuan teknologi yang pesat dapat membantu pihak pengelola dalam hal peningkatan kualitas dan kuantitas produksi. Selain masalah produksi, maka masalah ketepatan waktu pasokan dan kecepatan pelayanan dapat memberi kepuasan bagi para konsumen. Apabila pihak produsen kurang memanfaatkan perkembangan teknologi, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi, yang pada akhirnya akan kalah dalam bersaing di pemasaran.

d) Resiko Penghentian Ijin Usaha
Persyaratan perijinan merupakan suatu hal yang harus dipenuhi oleh perusahaan untuk dapat melakukan kegiatan usaha. Hal ini berhubungan dengan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengusaha dalam menjalankan usahanya dan perlindungan terhadap hak-hak konsumen. Apabila perusahaan melakukan pelanggaran atas ketentuan yang berlaku maka terdapat kemungkinan sebagian atau seluruh ijin usaha perusahaan dapat dibekukan sementara, ataupun dicabut sehingga dapat menghambat dan atau mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi. Hal ini bisa saja terjadi apabila perusahaan lalai dalam hal mengelola perijinan usahanya.

e) Resiko Persaingan Usaha
Setiap usaha tidak terlepas dari persaingan bisnis dengan perusahaan lainnya yang bergerak pada bidang yang sama. Dalam hal ini setiap bidang usaha harus lebih mempertimbangkan masalah kualitas atau standar produk yang ditawarkan, ketepatan waktu supplier dan tingkat harga yang ditawarkan dipasaran.

f) Resiko Perubahan Peraturan dan Kebijakan Pemerintah
Setiap usaha berhubungan dengan konsumen dan produsen yang mensupplai kebutuhan usahanya. Dalam menjaga hubungan itu pemerintah mengatur melalui berbagai peraturan. Kegagalan perusahaan dalam mengantisipasi peraturan-peraturan baru yang ditetapkan oleh pemerintah dapat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan produksi dan pemasarannya, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Disamping itu, perubahan peraturan atau kebijakan pemerintah yang secara langsung maupun tak langsung berkaitan bidang usaha bagi konsumen akhir dapat mempengaruhi kegiatan usaha perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi pendapatan perusahaan.

g) Resiko Tidak Tercapainya Target Proyeksi
Bila proyeksi produksi dan penerimaan yang dibuat tidak tercapai, maka akan berakibat kepada kemampuan perusahaan dalam memberikan return (pengembalian) kepada investor maupun kepada pemegang saham serta keterlambatan dalam melunasi kewajiban pinjamannya sesuai dengan jadwal.

2 RESIKO LINGKUNGAN USAHA
Evaluasi dan Penanganan Dampak Lingkungan
Lingkungan hidup sesungguhnya merupakan suatu sistem yang sangat kompleks dan berbagai faktor, seperti faktor fisik, kimiawi, biologis, sosial, ekonomi dan budaya. Berbagai jenis tindakan manusia terhadap lingkungan tersebut dapat melahirkan dampak Iingkungan yang kompleks pula, Terutama bidang usaha yang mempunyai hubungan timbal balik dengan lingkungan fisik (ekosistem) diantara dua atau lebih faktor-faktor lingkungan. Dengan demikian patut diperhatikan bahwa pada setiap aktifitas kegiatan pembangunan, baik berupa pemeliharaan, dan upaya menjalin keserasian hubungan timbal balik, khususnya antara manusia dengan sumber daya alam berikut lingkungan hidupnya tidak dapat diabaikan begitu saja.
Sejalan dengan itu, tentunya setiap bidang usaha perlu melakukan kegiatan fisik sewaktu melakukan kegiatan operasional. Agar tidak menyebabkan terjadi perusakan lingkungan maka kegiatan usaha hendaknya tetap diarahkan sesuai dengan peraturan yang berlaku, antara lain:

a. Kegiatan usaha yang direncanakan akan tetap disesuaikan dengan ketentuan yang sudah disetujui oleh instansi pemerintah yang terkait.

b. Dampak kelestarian hubungan ekosistem yang serasi dan seimbang antara manusia sebagai pengguna sumber daya alam dengan lingkungannya, yang menyediakan sumber daya yang memiliki serba keterbatasan, baik menurut jenisnya, kualitas dan kuantitasnya.

c. Evaluasi penanganan dampak lingkungan ini akan memberikan gambaran bagi upaya pemecahan masalah yang mungkin timbul sebagai akibat dari kegiatan proyek, yaitu melalui pemahaman secara menyeluruh terhadap hubungan antara manusia dengam alam lingkungan hidupnya.

Adapun hasil pengevaluasian terhadap penanganan dampak lingkungan adalah dimaksudkan untuk:
a) Dapat diketahui seberapa besar pengaruh dampak yang akan ditimbulkan sehubungan dengan kegiatan proyek yang akan direncanakan.
b) Mampu memberi masukan mengenai cara-cara terbaik untuk memperkecil pengaruh dampak lingkungan seandainya hal tersebut sukar atau tidak dapat dihindari.
c) Besarnya dampak lingkungan yang ditimbulkan tersebut akan dapat diperkirakan, sehingga langkah-langkah pencegahan sedini mungkin dapat dilakukan, termasuk pengendalian elemen-elemen yang mendorong proses percepatan kegiatannya.

Selanjutnya dengan cara pengendalian tersebut akan dapat dimanfaatkan hasilnya dalam perencanaan berikutnya, bahan sebagai acuan atau pedoman didalam melakukan tahapan operasional serta pada tahap pengelolaan kegiatanya, yaitu:
a) Mampu memberikan informasi kepada masyarakat sedini mungkin, baik yang bermukim disekitar wilayah kegiatan usaha, agar hal tersebut perlu dipahami secara umum.
b) Mampu mengajukan tanggapan bahwa pengajuan saran/usulan pencegahan bagi kemungkinan terjadinya dampak lingkungan yang lebih besar dari akibat kegiatan operasional usaha.
c) Kesemuanya itu kemudian dijadikan sebagai suatu cara atau isyarat pemberi tanda bahaya, yang secara tepat dan pasti dapat menentukan bobot dampak lingkungan yang paling mengancam terhadap lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian evaluasi penanganan dampak lingkungan akan mencakup mengenai elemen analisa dampak, yang menggambarkan kemungkinan yang akan timbul akibat kegiatan usaha tersebut. Mencakup prakiraan dampak berikut alternatif penanganan, arah pedoman pemecahan masalah, berikut pencegahan dampak yang bersifat merugikan menurut tingkat intensitas kejadiannya.

Mengingat kedudukan dan kegiatan usaha, maka perlu dilakukan identifikasi lingkungan secara tersendiri sebab setiap lingkungan usaha adalah merupakan suatu lingkungan alam yang terdiri dari unsur alam dan manusia berada didalamnya. Hubungan di antara keduanya akan terjadi interaksi yang sangat kuat dan membentuk suatu sistem ekologis.
Demikian juga dengan dikembangkannya usaha di atas, berarti akan terjadi suatu perubahan/penambahan kegiatan baru yang secara langsung dan tak langsung akan turut mempengaruhi kegiatan fisik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang ada disekitarnya.
Untuk itu perlu dilakukan penelaahan terhadap dampak negatif yang mungkin timbul karena adanya kegiatan usaha yang terjadi, baik langsung maupun tak langsung dan segi fisik, juga dampak sosial ekonomi dan budaya. Sehingga, hal tersebut tentunya perlu pembahasan masalah elemen-elemen analisa dampak lebih lanjut.